A. Pengertian
Kepribadian
Kepribadian
memiliki arti yang luas, kepribadian bukan hanya mencakup sifat-sifat yang
positif, sifat-sifat yang meranik ataupun segala sesuatu yang tampak secara
lahiriah, tetapi juga meliputi dinamika individu tersebut. Hall dan Lindzey
mengemukakan bahwa secara popular kepribadian dapat diartikan sebagai:
- Keterampilan atau kecakapan sosial
- Kesan yang paling menonjol, yang ditunjukkuan seseorang terhadapt orang lain.
Sedangkan
menurtu Woodworth mengemukakan bahwa kepribadian merupakan kualitas tingkah
laku total individu. Personality atau kepribadian berasal dari kata persona
merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi.
Menurut
Mangkunegara (2002) : “Kepribadian dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk
dari sifat-sifat yang ada pada diri individu yang sangat menentukan
perilakunya.”
Sedangkan menurut
Swastha dan Handoko (2000) ada 3 unsur pokok dalam kepribadian individu yaitu :
- Pengetahuan, yaitu unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Hal ini akan menimbulkan suatu gambaran, pengamatan (persepsi), apersepsi, konsep dan fantasi terhadap segala hal yang diterima dari lingkungan melalui pancainderanya.
- Perasaan, yaitu suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai keadaan positif dan negatif. Sebagai contoh, bila orang pada suatu hari yang panas melihat papan gambar reklame coca-cola, yang tampak segar dan nikmat, maka persepsi ini menyebabkan timbulnya suatu “perasaan” (sebagai hasil penggambaran-penggambaran dalam menikmati segelas coca-cola) yang positif, yaitu perasaan nikmat, dan kadang-kadang perasaan nikmat itu sampai menjadi nyata dengan mengeluarkan air liur.
- Dorongan naluri, yaitu kemajuan yang sudah merupakan naluri pada tiap manusia yang sering disebut “drive”. Macam-macam dorongan naluri, antara lain dorongan untuk mempertahankan hidup, dorongan seks, dorongan untuk mencari makan, dorongan untuk berinteraksi dengan sesama, dorongan untuk meniru perilaku sesamanya dan sebagainya.
B. Karakteristik
Pribadi yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Keputusan pembelian dipengaruhi oleh karakteristik
pribadi seperti umur dan tahap daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya
hidup, kepribadian, dan konsep diri pembeli.
a. Umur dan Tahap
Daur Hidup
Orang cenderung mengubah barang dan jasa yang mereka
beli semasa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabotan, dan rekreasi
sering kali berhubungan dengan umur. Membeli juga dibentuk oleh tahap daur
hidup keluarga, tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan
kedewasaannya.
- Pekerjaan
Pekerjaan seseorang akan mempengaruhi barang dan jasa
yang dibelinya.
- Situasi Ekonomi
Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan
pembelian produk.
- Kepribadian
Setaip individu memiliki karakteristik sendiri yang
unik. Kumpulan karakteristik perilaku yang dimiliki oleh individu dan bersifat
permanen biasa disebut kepribadian.
C. Faktor Penentu Kepribadian
a. Faktor keturunan
Pada
faktor ini, keturunan mengarah pada faktor genetika seseorang. Tingggi fisik,
gender, bentuk wajah, kompisi otot, tempramen serta refleks, irama biologis dan
tingkat energi ialah karakteristik yang secara umum dianggap, entah sepenuhnya
atau secara substansial, bisa dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu
itu, yakni komposisi biologis dan psikologis.
b. Faktor lingkungan
Faktor
lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah
lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga,
teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang
manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk
kepribadian seseorang.
D. Teori
Kepribadian
1. Teori
Psikoanalitis
Teori ini menunjukkan bahwa perilaku manusia ini
dikuasai oleh personalitas atau kepribadiannya. Menurut Sigmund Freud
menjelaskan bahwa hampir semua kigiatan mental adalah tidak dapat diketahui dan
tidak bisa didekati secara mudah bagi setiap individu, namun kegiatan tertentu
dari mental ini dapat mempengaruhi perilaku manusia.
Teori psikoanalitis ini menekankan pada sifat-sifat
kepribadian yang tidak disadari sebagai hasil dari konflik masa kanak-kanak.
Konflik itu diturunkan menjadi tiga komponen kepribadian yang terdiri dari
atas:
- Id (Iibido)
Id
mengendalikan kebutuhan dan kepentingan individu yang paling dasar seperti rasa
lapar, haus, seks, dan pertahanan diri. Id adalah sumber kekuatan yang dibawa
sejak lahir yang mengendalikan perilaku dan merupakan subsistem dari
kepribadian. Id adalah penampungan dan sumber dari semua kekuatan jiwa yang
menyebabkan berfungsinya suatu sistem. Id secara tetap merupakan suatu upaya
untuk emndapatkan penghargaan, pemuasan, dan kesenangan. Upaya ini secara pokok
diwujudkan lewat libido dan agresi.
- Ego
Ego mewakili
logika dan yang berhubungan dengan prinsip-prinsip realitas. Ego merpakan
subsistem yang berfungsi ganda yakni melayani dan sekaligus mengendalikan dua
sistem yang lainnya dengan cara interaksi denfan dunia luar atau lingkungan
luar. Tujuan ego adalah untuk melindungi kehidupan dengan cara menafsrikan dan
menggali apa yang terjadi didalam lingkungan luar, sehingga ego menjadi sadar
tentang apa yang sedang terjadi. Ego akan berekasi dengan keinginan Id dengan
mempertimbangkan terlebih dahulu apakah keinginan itu dapat memuaskan atau
tidak.
- Superego
Superego
adalah tali kekang untuk Id, sehingga superego menjadi penekan gejolak nafsu
yang ada pada manusia. Superego tidak mengatur ID, tetapi superego sebagai
pengekang dengan memberikan hukuman pada perilaku yang tidak dapat diterima
dengan menciptakan perasaan bersalah.
2. Teori Sosial
Dari perspektif teori sosial, kepribadian dijelaskan
dengan pola perilaku yang konsisten yang memperhatikan hubungan orang-orang
dengan situasi sosial. Setiap orang berperilaku sesuai dengan tuntutan sosial.
Pada prinsipnya model CAD (compliance/aggresiveness/detachment) ingin
melihar kategori produk apa saja yang bisa dipakai sebagai pemenuhan (compliance),
sifat-sifat agresif (aggresiveness), dan perilaku yang bebas dari
pengaruh (detachment).
3. Teori Konsep
Diri
Berkaitan dengan kepribadian ialah konsep diri
seseorang. Dalam pandangan teori konsep diri manusia mempunyai pandangan dan
persepsi atas dirinya sendiri. Dengan demikian, setiap individu berfungsi
sebagai subjek dan objek persepsi. Secara umu konsep diri diatur oleh dua
prinsip yaitu keinginan untuk mencapai konsistensi dan keinginan untuk
meningkatkan harga diri. Konsep actual self (diri yang sebenarnya) dapat
diterapkan untuk pemasaran.
Konsep actual self menyatakan bahwa pembelian
yagn dilakukan oleh konsumen dipengaruhi oleh konsep yang dimiliki mereka
sendiri. Konsistensi diri dicapai dengan membeli produk yang dirasakan oleh
konsumen sama dengan konsep diri mereka, oleh karena itu ada kesamaan antara citra
merek dan citrak diri (self-image). Komponen lain dalam konsep diri
ialah ideal self (dirinya yang idela, berhubungan dengan self-esteem.
Self-esteem seseorang merupakan suatu sikap positif terhadap dirinya
sendiri.
4. Teori
Sifat/Ciri (Trait Theory)
Pendekatan teori sifat berusaha mengklasifikasikan
manusia menurut karakteristik atau ciri-ciri dominan. Trait ialah setiap
karakteristik yang berbeda dari yang satu dengan yang lainnya, dan ciri-ciri
atau sifat itu relatif permanen dan konsisten. Teori ini berusaha menjelaskan
serangkaian keenderungan sifat-sifat manusia.
E. Pengukuran
Kepribadian
Manusia sebenarnya seiringkali melakukan
pengukuran terhadap kepribadian seseorang.
Hanya saja kita melakukannya berdasarkan ciri-ciri stereotipe dari ciri-ciri
kelompok dimana orang tersebut ikut sebagai anggotanya. Misalnya: orang kota
itu individualis, orang Jawa halus, orang Medan pelit, dan sebagainya.
Kita juga cenderung hanya menilai orang
dari berdasarkan salah satu ciri tertentu yang kita sukai atau tidak kita
sukai. Penilaian dengan cara ini sangat menyesatkan dan disebut hallo effect. Selain itu
kita cenderung mengharapkan penilaian baik-buruk pada ciri-ciri pribadi tertentu.
Pengukuran kepribadian dibidang
psikologi tidak bermaksud untuk menerapkan label nilai-nilai moral (value label), tetapi untuk
mendeskripsikan perilaku seperti apa adanya. Terdapat tiga metode
pengukuran kepribadian, yaitu:
- Metode Observasi
Seorang pengamat yang sudah terlatih
dapat melakukan observasi terhadap perilaku yang terjadi dalam keadaan
normal/wajar, situasi eksperimen, maupun dalam konteks suatu interview.
Informasi yang diperoleh melalui metode ini bisa dicatat pada suatu bagan yang
sudah dibakukan, seperti pada rating
scale (skala rating). Menggunakan skala rating ini, penilaian
pengamat terhadap suatu perilaku dapat dicatat secara sistematis. Selain itu,
bila dilakukan suatu interview (wawancara)
terstruktur, alat pencatat seperti tape
recorder atau peralatan pembantu lain sudah sangat membantu.
- Metode Inventori
Metode
ini mengandalkan pada hasil observasi subjek terhadap dirinya sendiri. Suatu
inventori (personality
inventory) merupakan pertanyaan-pertanyaan atau pemyataan-pemyataan
yang harus diisi atau dipilih oleh subjek berdasarkan ciri-ciri yang ia anggap
ada dalam dirinya sendiri. Alat-alat semacam itu,misalnya: MMPI (Minesota Multiphasic Personality
Inventory) yang terdiri dari 550 pertanyaan. Selain itu ada CPI (California Psychological Inventory), Guilford-Zimmerman Temperament Survey, Sixteen Personality Questionnaire (16
PF) yang dikembangkan oleh Catell, dan lain-lain. EPPS (Edwards Personal Preference Schedule)
merupakan contoh inventori yang banyak digunakan di Indonesia.
- Teknik Proyektif
Cara lain yang banyak digunakan untuk
mengukur kepribadian adalah dengan
teknik proyektif. Asumsi dasarnya adalah bahwa untuk memperoleh gambaran yang
bulat tentang seseorang diperlukan kebebasan untuk mengekspresikan diri. Tes
proyektif yang digunakan dalam metode ini biasanya berupa suatu rangsang
(berbentuk gambar) yang sifatnya sangat ambigu, tidak jelas.
Bila dihadapkan dengan situasi semacam
ini, individu akan mencoba menerapkan persepsinya yang sudah dipengaruhi oleh
berbagai pengalamannya di masa lampau. Ekspresinya didalam mengungkapkan apa
yang dilihat bisacukup bebas karena gambar itu bisa ditafsirkan sesuka hati
individu. Tes
Rorschach (Tes Ro) mempunyai rangsang dengan taraf ambiguitas
yang cukup tinggi. Rangsang-rangsang dalam tes Ro adalah berupa bercak-bercak
tinta. Tes Ro ini cukup populer di Indonesia.
TAT (Thematic
Apperseption Test) yang dikembangkan oleh H. Murray di Universitas
Harvard pada tahun 1930-an juga mempunyai rangsang yang ambigu. Tetapi
rangsang-rangsang di TAT lebih terstruktur karena menggunakan gambar-gambar
yang cukup jelas tentang seseorang dalam situasi tertentu. Selain itu, terdapat
dua tes yang disebut Draw A Man (DAM) dan Wartegg, yang meminta subjek untuk
menggambar sesuatu. Kemudian kualitas gambar diteliti
mengenai bentuk garisnya dan tanda-tanda tertentu yang dianggap mempunyai
petunjuk psikologis.
F. Pengertian
Pembelajaran
1. Menurut Hamalik pembelajaran
merupakan suatu kombinasi yang tersusun antara unsur manusiawi, material,
fasilitas, dan rencana yang saling mempengaruhi untuk mencapai suatu tujuan
2. Menurut Surya (2004) pembelajaran
merupakan suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu
perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
3. Menurut Knirk dan Gustafson
pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis dengan melalui tahap
rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi
Pembelajaran merupakan setiap kegiatan
yang dirancang oleh seorang pendidik (guru) untuk membantu seseorang dalam
mempelajari suatu kemampuan atau suatu hal yang baru dalam suatu proses yang
sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks
kegiatan belajar mengajar.
G. Pengertian
Belajar
1. Menurut James O. Wittaker mendefinisikan bahwa belajar
merupakan suatu proses dimana tingkah laku seseorang ditimbulkan atau diubah
melalui sebuah latihan atau pengalaman
2. Menurut Howard L. Kingsley belajar merupakan suatu
proses dan aktivitas yang melibatkan seluruh indra yang mampu mengubah seluruh
perilaku seseorang terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya
H. Teori
Belajar
a. Teori Belajar Psikologis Daya
Teori
tentang belajar yang berlandaskan psikologi daya merupakan teori belajar yang
pertama kali muncul. Menurut para ahli psikologi daya, mental itu terdiri dari
sejumlah daya yang satu sama lain saling terpisah seperti mengamati, mengingat,
menghayal, dan berpikir. Belajar menurut teori ini yaitu untuk meningkatkan
kemampuan daya-daya melalui latihan
b. Teori Belajar Asosiasi
Menurut Psikologi Asosiasi, belajar
merupakan perilaku individu pada hakikatnya terjadi karena adanya hubungan
antara stimulus (rangsangan) dan (respon). Teori asosiasi ini mulai
dipopulerkan oleh Edward Lee Thorndike berdasarkan peneltiannya pada tahun
1913. Hasil penelitian Thorndike yaitu sekali menekankan pada pentingnya kesiapan,
latihan, dan pada hasil yang menyenangkan (good effect) dalam belajar.
c. . Teori Belajar Gestalt
Teori
ini memandang bahwa belajar terjadi jika seseorang telah memperoleh suatu
pemahaman. Pemahaman atau insight timbul secara tiba-tiba, jika individu telah
dapat melihat hubungan antara unsur-unsur dalam situasi problematis. Insight
juga dapat timbul pada saat individu dapat memahami struktur yang semula
menjadi suatu masalah. Dengan kata lain insight adalah semacam reorganisasi
pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba, seperti ketika seseorang menemukan
ide baru atau menemukan pemecahan suatu masalah
I. Pengertian Kesetiaan pelanggan
Secara
harfiah loyal berarti setia, atau loyalitas dapat diartikan sebagai suatu
kesetiaan. Kesetiaan ini timbull tanpa adanya paksaan, tetapi timbul dari
kesadaran sendiri pada masa lalu. Usaha yang dilakukan untuk menciptakan
kepuasaan konsumen lebih cenderung mempengaruhi sikap konsumen. Kesetiaan
pelanggan merupakan kondisi dimana konsumen mempunyai sikap positif terhadap
suatu brand, mempunyai komitmen terhadap brand tersebut
dan bermaksud meneruskan pembelian di masa mendatang
- Faktor yang mempengaruhi loyalitas
1.
Kepuasan (Satisfaction). Kepuasan pelanggan merupakan pengukuran antara
harapan pelanggan dengan kenyataan yang mereka terima atau yang dirasakan.
2.
Ikatan emosi (Emotional bonding). Konsumen dapat terpengaruh oleh sebuah
merek yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga konsumen dapat
diidentifikasikan dalam sebuah merek, karena sebuah merek dapat mencerminkan karakteristik
konsumen tersebut. Ikatan yang tercipta dari sebuah merek ialah ketika konsumen
merasakan ikatan yang kuat dengan konsumen lain yang menggunakan produk atau
jasa yang sama.
3.
Kepercayaan (Trust) yaitu kemauan seseorang untuk mempercayakan perusahaan
atau sebuah merek untuk melakukan atau menjalankan sebuah fungsi.
4.
Kemudahan (Choice reduction and habit). Konsumen akan merasa nyaman dengan
sebuah kualitas produk dan merek ketika situasi mereka melakukan transaksi
memberikan kemudahan.
5.
Pengalaman dengan perusahaan (History with company). Sebuah pengalaman
seseorang pada perusahaan dapat membentuk perilaku. Ketika mendapatkan
pelayanan yang baik dari perusahaan, maka akan mengulangi perilaku pada
perusahaan tersebut.
J. Pengertian
Sikap
Definisi awal
sikap dikemukakan oleh thurstone (dalam azwar, 1988), dia melihat sikap sebagai
salah satu konsep yang cukup sederhana, yaitu jumlah pengaruh yang dimiliki
seseorang atas atau menentang suatu objek. Kemudian setelah beberapa tahun,
allport (dikutip oleh loundon & della-bitta, 1993) mengajukan definisi yang
lebih luas yaitu sikap adalah suatu mental dan saraf sehubungan dengan kesiapan
untuk menanggapi, diorganisasi melalui pengalaman dan memiliki pengaruh yang
mengarahkan dan/atau dinamis terhadap perilaku.
Sikap (attitude ) adalah suatu
kecenderungan yang dipelajari untuk memberikan
respon secara konsisten
terhadap suatu objek yang diberikan, seperti halnya suatu
merk. Sikap tergantung pada sistem nilai
dari seorang individu
yang mewakili standar
pribadi tentang baik dan
buruk, benar dan
salah, dan seterusnya,
oleh karena itu sikap cenderung lebih
tahan lama dan
kompleks dibandingkan dengan kepercayaan (Lamb,
Hair, McDaniel, 2001:233). Sikap(Attitude)
konsumen adalah faktor penting yang akan
mempengaruhi keputusan konsumen. Konsep sikap sangat terkait dengan konsep
kepercayaan (beliefe) dan
perilaku(behavior). Kepercayaan konsumen adalah pengetahuan konsumen
mengenai suatu objek, atributnya, dan manfaatnya (Mowen dan Minor,1998 hal
242).
- Karakteristik sikap
11. Sikap
Memiliki Obyek
Di dalam
konteks pemasaran, sikap konsumen harus
terkait dengan obyek, obyek
tersebut bisa terkait
dengan berbagai konsep konsumsi
dan pemasaran seperti produk, merek, iklan, harga , kemasan, penggunaan, media,
dan sebagainya.
b2. Konsistensi
Sikap
Sikap merupakan gambaran perasaan
dari seorang konsumen
dan perasaan tersebut akan
direfleksikan oleh perilakunya.
Karena itu sikap mempunyai konsistensi
dengan perilaku. Perilaku seorang konsumen merupakan gambaran dari sikapnya.
c3. Sikap
Positif, Negatif, dan Netral
Seseorang mungkin menyukai
makanan rendang (sikap positif) atau
tidak menyukai minuman
alkohol (sikap negatif)
atau bahkan ia tidak
memiliki sikap-sikap netral).
Sikap yang memiliki dimensi positif
,negatif dan netral
disebut sebagai karakteristik
balance dari sikap.
d4. Intensitas
Sikap
Sikapseseorang konsumen
terhadap suatu merek
akan bervariasi
tingkatannya, ada yang
sangat menyukainya atau bahkan
ada yang sangat begitu
menyukainya atau bahkan
ada yang begitu sangat
tidak menyukainya. Ketika
konsumen menyatakan derajat tingkat
kesukaan terhadap suatu
produk,maka ia mengungkapkan
intensitas sikapnya. Intensitas
sikapdisebut sebagai karakteristik extremitydari sikap.
e5. Resistensi
Sikap(resistance)
Resistensi adalah seberapa
besar sikap konsumen bisa berubah. Pemasar
penting mengetahui sikap
konsumen agar bisa menerapkan strategi
pemasaranyang tepat. Pemasaran ofensifbisa diterapkan untuk
mengubah sikap konsumen yang sangat resisten terhadap suatu produk.
f 6. Persistensi
Sikap(Persistance)
Persistensi adalah
analisis sikap yang menggambarkan
bahwa siakp akan berubah
dengan berlalunya waktu.
Misalnya seseorang tidak menyukai
produk kue Biskuat
Bolu (sikap negative), seiring
dengan berjalannya waktu mungkin dia akan berubah sikap menyukai produk Biskuat
Bolu.
g7. Keyakinan
Sikap(confidence)
Keyakinan adalah kepercayaan
konsumen mengenai kebenaran sikapyang
dimilikinya. Misalnya sikap
konsumen terhadap produk yang
sudah lama digunakan
akan lebih tinggi dibandingkan sikap
konsumen terhadap produk
baru yang masih asing.
h8. Sikapdan
Situasi
Sikap seorang terhadap
suatu obyek seringkali
muncul dalam konteks situasi.
Ini artinya situasi
akan mempengaruhi sikapkonsumen terhadap suatu objek. Misalnya
seseorang tidak suka makan Biskuat bolu pada siang hari, tetapi suka makan
Biskuat Bolu pada pagi hari.
K. Teori-teori tentang Sikap
- Teori Keseimbangan
Pada teori ini fokusnya
terletak pada upaya individu untuk tetap konsisten dalam bersikap dalam hidup yang melibatkan hubungan-
hubungan antara seseorang dengan dua objek sikap. Dan dalam bentuk sederhana,
elemen tersebut dihubungkan dengan :
- sikap favorable ( baik, suka,
positif )
- sikap Unfavorable ( buruk,
tidak suka, negatif )
- Teori Konsistensi kognitif – Afektif
Pada teori ini fokusnya
terletak pada bagaimana seseorang berusaha membuat kognisi mereka konsisiten
dengan afeksinya dan penilaian seseorang terhadap suatu kejadian akan
mempengaruhi keyakinannya.
Sebagai contoh: Tidak jadi
makan direstoran X karena temannya bilang bahwa restoran tersebut tidak halal
padahal di belum pernah kesana
- Teori Ketidaksesuaian
Pada teori ini fokusnya
terletak pada bagaimana individu
menyelataskan elemen – elemen kognisi, pemikiran atau struktur ( Konsonansi
selaras ) dan disonasi atau kesetimbangan yaitu pikiran yang amat menekan dan
memotivasi seseorang untuk memperbaikinya.dimana terdapat 2 elemen kognitif
dimana disonasi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menganggu logika
dan penghargaan
- Teori Atribusi
Pada teori ini fokusnya
terletak pada bagaimana individu mengetahui akan sikapnya dengan mengambil
kesimpulan sendiri dan persepsinya tentang situasi. Pada teori ini implikasinya
adalah perubhan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada
orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.
Sebagai contoh memasak setiap
kesempatan baru sadar kalu dirinya suka menyukai/ hobi memasak.
L. Fungsi-fungsi Sikap
Daniel kazt mengklasifikasikan empat sikap, yaitu:
- Fungsi utilitarian
Merupakan fungsi yang
berhubungan dengan prinsip-prinsip dasar imbalan dan hukuman, konsumen
mengembangkan beberapa sikap terhadap produk atas dasar apakah suatu produk
memberikan kepuasan atau kekecewaan
- Fungsi ekspresi nilai
Konsumen mengembangkan sikap terhadap
suatu merek produk bukan didasarkan atas manfaat produk tersebut, melainkan
didasarkan atas kemampuan merek produk tersebut mengekspresikan nilai-nilai
yang ada pada dirinya.
- Fungsi mempertahankan ego
Sikap yang dikembangkan oleh
konsumen cenderung untuk melindunginya dari tantangan eksternal maupun perasaan
internal, sehingga membentuk fungsi mempertahankan ego
- Fungsi pengetahuan
Sikap membantu konsumen
mengorganisasikan informasi yang begitu banyak yang setiap hari dipaparkan pada
dirinya. Fungsi pengetahuan dapat membantu konsumen mengurangi ketidakpastian
dan kebingungan dalam memilih-milah informasi yang relevan dan tidak relevan
dengan kebutuhannya
M. Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi Pembentukan Sikap
1. Pengaruh
Keluarga
Keluarga memiliki peran
penting dalam pembentukan sikap maupun perilaku. Keluarga merupakan lingkungan
yang paling dekat karena konsumen melakukan interaksi lebih intensif
dibandingkan dengan lingkungan lain. Beberapa penelitian mengungkapkan sikap
konsumen terhadap produk tertentu memiliki hubungan yang kuat dengan sikap
orang tuanya terhadap produk tersebut.
2.
Pengalaman langsung
Pengalaman
individu mengenai obyek sikap dari waktu ke waktu akan membentuk sikap tertentu
pada individu.
3. Kelompok
teman sebaya (Peer Group Influences)
Teman sebaya punya
peran yang cukup besar terutama bagi remaja dalam pembentukan sikap. Adanya
kecenderungan untuk mendapatkan penerimaan dari teman-teman sebayanya,
mendorong para remaja mudah dipengaruhi oleh kelompoknya dibandingkan sumber-sumber
lainnya.
4. Pemasaran
langsung
Mulai banyaknya
perusahaan yang menggunakan pemasaran langsung atas produk yang ditawarkan
secara tidak langsung berpengaruh dalam pembentukan sikap konsumen.
5.
Kepribadian
Kepribadian
individu memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap seseorang.
6. Tayangan
Media Massa
Media massa ini
sangat penting dalam pembentukan sikap, maka pemasar perlu mengetahui media apa
yang biasanya dikonsumsi oleh pasar sasarannya dan melalui media tersebut
dengan rancangan pesan yang tepat, sikap positif dapat dibentuk.
N. PERUBAHAN SIKAP
Perubahan sikap
dapat dipengaruhi oleh berbagai pengalaman pribadi dan informasi yang diperoleh
dari berbagai sumber perorangan dan umum. Kepribadian konsumen sendiri
mempengaruhi penerimaan maupun kecepatan perubahan sikap.
Strategi-Strategi Perubahan
Sikap
- Merubah fungsi motivasional dasar
- Mengasosiasikan produk dengan suatu kelompok atau peristiwa yang dikagumi
- Mengatasi dua sikap yang bertentangan
- Merubah komponen-komponen dari model multiatribut
- Merubah keyakinan tentang merek-merek pesaing
Sumber :
Dwiastuti,
rini. Shinta, agustina. Isaskar, riyanti. 2012. Ilmu perilaku konsumen. Malang
: UB Press
Lefudin.
2017. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: CV Budi Utama. Diakses 22 Februari
2020. http://books.geogle.co.id/
Setiadi, N. (2003).
Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Kharisma Putra Utama.
Subianto, T. (2007). Studi tentang Perilaku Kosumen
Berserta Implikasinya Terhadap Keputusan Pembelian. Jurnal Ekonomi
Modernisasi, 165-182.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar