Rabu, 25 Maret 2020

FAKTOR KEBUDAYAAN DAN KELAS SOSIAL DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN

Faktor Kebudayaan

A. Pengertian Budaya

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Paulus (1999) dalam Aprih dan Bambang (2009) menyatakan bahwa budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijalankan dalam proses belajar. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni bahasa, sebagaimana juga budaya merupakan sebuah bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya bahwa budaya itu diwariskan secara genetis. Budaya merupakan suatu kepercayaan, nilai-nilai dan kebiasaan yang dipelajari seseorang, yang dapat mengarahkan seseorang tersebut dalam menggunakan suatu barang atau jasa. Kepercayaan, nilai-nilai dan kebiasaan itu dapat muncul bila seseorang melakukan interaksi, hubungan dan saling mempengaruhi dalam berperilaku.

B. Pengertian Sub Budaya

Setiap budaya terdiri sub budaya yang lebih kecil yang memberikan lebih banyak ciri – ciri dan sosialisasi khusus bagi anggotanya. Sub budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak sub budaya yang membentuk segmen pasar penting dengan merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Suatu perusahaan membuat produk sesuai dengan daerah dimana produk tesebut dipasarkan (Kotler dan Keller, 2007).
Menurut Solomon (2004), sub budaya terdiri dari anggota yang memiliki kesamaan kepercayaan dan pengalaman yang membedakan anggota tersebut dari yang lain. Anggota ini bisa didasarkan dari kesamaan umur, ras, latar belakang suku, atau tempat tinggal. Setiap suku memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda, seperti dalam menentukan suatu produk, memilih tempat wisata, perilaku politik serta keinginan untuk mencoba produk baru. Dalam segi umur pun juga mempengaruhi dalam perilaku konsumsi.
Menurut Schifman dan Kanuk (2008), sub budaya membagi keseluruhan masyarakat menjadi berbagai macam variabel sosiobudaya dan demografis seperti kebangsaan, agama, lokasi geografis, ras, usia, gender, dan bahkan status pekerjaan. Para anggota sub budaya tertentu mempunyai nilai – nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang membedakan anggota sub budaya tersebut dari anggota lain dalam masyarakat yang sama.

C. Pengaruh Kebudayaan

Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas social pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis:

  • Kelompok Nasionalisme,
  • Kelompok Keagamaan,
  • Kelompok Ras, dan
  • Area Geografis.
Banyak sub-budaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Berikut ini adalah contoh pengaruh kebudayaan yang mempengaruhi pembelian itu sendiri :

  • Pengaruh Budaya Terhadap Pemaknaan Sebuah Produk.
Budaya menuntun individu dan masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan maupun keinginan terhadap barang dan jasa. Tuntunan budaya tersebut dapat berupa nilai ataupun norma. Dalam tiap-tiap kebudayaan, terdapat ciri khas masing–masing yang membawa pemaknaan terhadap suatu produk. Contohnya : Tuntunan budaya berupa nilai : dalam hal kuliner  sayur asam, ikan asin, atau lalapan. Orang akan memaknai produk tersebut kulinernya orang sunda. Tuntunan budaya berupa norma : labelisasi Halal pada setiap produk yang dapat di konsumsi oleh umat Islam, yang di keluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia.Pengaruh

  • Budaya Terhadap Pengambilan Keputusan Individu.
Individu dalam mengambil keputusan untuk berkonsumsi, tidak dapat dipisahkan dari pengaruh budaya. Di antaranya di pengaruhi nilai dan norma. Di dalam masyarakat terdapat ide/gagasan mengenai, apakah suatu pengalaman berharga, tidak berharga, bernilai, tidak bernilai, pantas atau tidak. Inilah yang di artikan sebagai nilai. Sedangkan norma sendiri dimaknai sebagai peraturan yang ditetapkan secara bersama-sama, yang menuntun perilaku seseorang dalam mengambil keputusan. Contohnya : Pengambilan keputusan yang di pengaruhi oleh nilai : Kegiatan amal yang di lakukan individu, dengan menyantuni semua anak yatim dalam suatu panti, merupakan tindakan yang bernilai, yang akan memperoleh pahala dan kebajikan bagi dirinya. Tetapi tidak bagi individu lain, karena dianggap hal itu merupakan pemborosan. Pengambilan keputusan yang di pengaruhi oleh norma : Di daerah Padang, di haruskan bagi para siswa sekolah untuk bisa membaca Al-Qur’an. Namun tidak bagi daerah di Papua.

  • Pengaruh Budaya yang Berupa Tradisi.
Tradisi adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan manusia, dari lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat bersifat umum. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang selalu berhubungan dengan pohon cemara. Dan untuk tradisi-tradisi misalnya pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara tersebut.

  • Pengaruh Budaya dapat Memuaskan Kebutuhan.
Budaya yang ada di masyarakat dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya dalam suatu produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode “Coba dan buktikan” dalam memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial. Misalnya dengan adanya budaya yang memberikan peraturan dan standar mengenai kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap waktu seseorang pada waktu makan. Begitu juga hal yang sama yang akan dilakukan konsumen misalnya sewaktu mengkonsumsi makanan olahan dan suatu obat.

  • Pengaruh Budaya yang tidak disadari.
Dengan adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan . Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja.

  • Pengaruh Budaya dapat dipelajari.
Budaya dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan yang kemudian membentuk budaya seseorang. Berbagai macam cara budaya dapat dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu misalnya ketika orang dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota keluarganya yang lebih muda mengenai cara berperilaku. Ada juga misalnya seorang anak belajar dengan meniru perilaku keluarganya, teman atau pahlawan di televisi. Begitu juga dalam dunia industri, perusahaan periklanan cenderung memilih cara pembelajaran secara informal dengan memberikan model untuk ditiru masyarakat.

D. Unsur Sub-Budaya dan Demografis

Budaya yang ada di dalam suatu masyarakat bisa dibagi lagi ke dalam beberapa bagian yang lebih kecil. Inilah yang disebut dengan sub-budaya. Sub-budaya bisa tumbuh dari adanya kelompok-kelompok di dalam suatu masyarakat. Pengelompokan masyarakat biasanya berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi tinggal, pekerjaan dan sebagainya. Suatu budaya akan terdiri dari beberapa kelompok kecil lainnya, yang dicirikan oleh adanya perbedaan perilaku antar kelompok kecil tersebut. Perbedaan kelompok tersebut berdasarkan karakteristik sosial, ekonomi dan demografi. Demografi akan menggambarkan karakteristik suatu penduduk.
Di dalam varibel demografi tersebut, kita bisa mendapatkan Sub-budaya yang berbeda, yaitu suku sunda, batak, padang, dsb. Unsur-unsur Sub Budaya dan Demografi :

  • Usia
Merupakan hal yang penting untuk dipahami, karena konsumen yang berbeda usia akan mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda. Para pemasar harus memahami apa kebutuhan dari konsumen dengan berbagai usia tersebut, kemudian membuat beragam produk yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

  • Pendidikan dan pekerjaan
Pendidikan akan menentukan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seorang konsumen. Profesi dan pekerjaan seseorang akan mempengaruhi pendapatan yang diterimanya. Pendapatan dan pendidikan tersebut kemudian akan mempengaruhi proses keputusan dan pola konsumsi seseorang. Tingkat pendidikan seseorang juga akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berpikir, cara pandang bahkan persepsinya terhadap suatu masalah. Dari sisi pemasaran, semua konsumen dengan tingkat pendidikan yang berbeda adalah konsumen potensial bagi semua produk dan jasa. Pemasar harus memahami kebutuhan konsumen dengan tingkat pendidikan yang berbeda, dan produk apa yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

  • Lokasi geografis
Dimana seorang konsumen tinggal akan mempengaruhi pola konsumsinya. Konsumen yang tinggal di desa akan memiliki akses terbatas kepada berbagai produk dan jasa. Sebaliknya, konsumen yang tinggal di kota-kota besar lebih mudah memperoleh semua barang dan jasa yang dibutuhkannya.

Kelas Sosial

A. Pengartian Kelas Sosial

Istilah kelas (kelas sosial) tidak selalu memiliki arti yang sama meskipun secara hakikat mewujudkan sistem kedudukan pokok dalam masyarakat. Pengertian kelas sejalan dengan pengertian lapisan tanpa harus membedakan dasar pelapisan masyarakat. Kelas sosial atau golongan sosial mempunyai arti yang relatif lebih banyak dipakai untuk menunjukkan lapisan sosial yang didasarkan atas kriteria ekonomi. Sehingga kelas sosial dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang menempati lapisan sosial berdasarkan kriteria ekonomi.
Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosialnya, seperti seorang anggota masyarakat yang dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang anggota masyarakat dipandang rendah kerena memiliki status sosial yang rendah. Pembagian kelas sosial terdiri atas tiga bagian yaitu berdasarkan status ekonomi, dan status sosial. Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas atau golongan yaitu golongan sangat kaya, golongan kaya, dan golongan miskin. Aristoteles menggambarkan ketiga kelas tersebut seperti piramida.
 


  • Golongan pertama merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari pengusaha, tuan tanah, dan bangsawan.
  • Golongan kedua merupakan golongan yang cukup banyak terdapat didalam masyarakat yang terdiri dari para pedagang dan sebagainya.
  • Golongan ketiga merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat, kebanyakan terdiri dari rakyat biasa
Kelas sosial merupakan lapisan sosial yang dimiliki oleh individu maupun sekelompok orang yang bisa terlihat lebih tinggi atau lebih rendah dari konsumen lainnya. Biasanya kelas sosial terlihat pada pekerjaan, penghasilan, pendidikan, kehormatan, kekuasaan konsumen. Dengan mengetahui kelas sosial konsumen, pemasar dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen serta perilaku sosialnya. Biasanya kelas sosial terlihat pada pekerjaan, penghasilan, pendidikan, kehormatan, kekuasaan konsumen. Dengan mengetahui kelas sosial konsumen, pemasar dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen serta perilaku sosialnya.

B. Karakteristik Kelas Sosial

Menurut Dharmmesta dan Handoko (2013), kelas sosial dapat dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu :
1.    Kelas sosial golongan atas, yang termasuk dalam kelas ini antara lain: pengusaha-pengusaha, pejabat tinggi.
2.   Kelas sosial golongan menengah yang termasuk dalam kelas ini antara lain: karyawan instansi, pemerintah, pengusaha menengah
3.   Kelas sosial golongan rendah yang termasuk dalam kelas ini: buruh pabrik, pegawai rendah, tukang becak, dan pedagang kecil.

C. Faktor-faktor yang Menentukan Kelas Sosial

Menurut teori Engel, dkk (1994), menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang yang dapat menentukan kelas sosial yaitu:
a.    Pekerjaan merupakan aspek strata sosial yang sangat penting, karena begitu banyak segi kehidupan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Apabila kita mengetahui jenis pekerjaan seseorang makan kita dapat menduga tinggi rendahnya pendidikan, standar hidup, pertemanannya, jam kerja, dan kebiasaan sehari-hari dari keluarga orang tersebut. Pekerjaan merupakan salah satu indikator terbaik untuk mengetahui cara hidup seseorang.
b.    Pendidikan (prestasi pribadi), kelas sosial dan pendidikan saling mempengaruhi, dimana dalam pendidikan ini tidak hanya sekedar memberikan keterampilan kerja, tetapi juga melahirkan perubahan mental, selera minat, tujuan etika, cara berbicara, dan perubahan dalam keseluruhan cara hidup seseorang
c.    Kekayaan merupakan sebuah penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan seseorang, sehingga orang yang memiliki kekayaan lebih maka akan memberikan gambaran tentang latar belakang dan cara hidup seseorang, sehingga kekayaan merupakan determinasi kelas sosial yang penting

Studi Kasus

A. Faktor Kebudayaan

Menurut penelitian Pengaruh Faktor Kebudayaan, Sosial, Pribadi dan Psikologi terhadap Perilaku Pembelian (studi kasus perilaku konsumen dalam pembelian sabun cair di Toko Sami Untung Pasar Mrican Semarang) (nila & tantri, 2011). Pengujian hipotesis Variabel Faktor Budaya terhadap Perilaku Konsumen dilakukan dengan uji t. Pengujian hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor budaya (X1) terhadap perilaku konsumen. Dari perhitungan dihasilkan  nilai t hitung = 13,525 > nilai t tabel = 1,985 dengan signifikansi sebesar 0,000, hal ini berarti variabel kebudayaan mempunyai hubungan positif dan signifikan, artinya bila budaya menggunakan sabun cair sudah melekat dibenak konsumen, maka perilaku konsumen dalam pembelian sabun cair juga meningkat.
Selain itu dari hasil identifikasi responden  menunjukkan bahwa responden pada umumnya menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi sabun cair karena sudah terbiasa mengkonsumsi produk tersebut sebagai pengganti sabun batangan yang penggunaannya mudah, produknya mudah diperoleh di sekitar daerah tempat tinggal walaupun pembelian sabun cair mencerminkan kelas sosial. Berarti dalam penelitian ini terlihat bahwa konsumen yang dulunya menggunakan sabun batangan, sekarang merasa lebih praktis menggunakan sabun cair. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat kebudayaan seseorang, maka kecenderungan untuk mengikuti kebiasaan/trend saat ini terhadap penggunaan sebuah produk juga meningkat. Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel kebudayaan merupakan variabel yang dominan terhadap perilaku konsumen dibandingkan variabel yang lain

B. Kelas Sosial

Menurut penelitian Pengaruh Kelas Sosial Terhadap Perilaku Konsumen (studi pada pembelian rumah di PERUM PERUMNAS cabang Mojokerto lokasi Madiun) (Nugraheni, 2018). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 56 konsumen sekaligus sebagai sampel karena jumlah keseluruhan populasi kurang dari 100 sehingga keseluruhan dijadikan sampel. Dengan menggunakan uji koefisien determinasi dan uji signifikansi t sebagai alat uji coba terhadap sampel.
Deskripsi variabel Kelas Sosial dengan jumlah responden sebanyak 56 konsumen, memiliki deskripsi data sebagai berikut : (1) Nilai rata-rata hitung (Mean) sebesar 37,91; (2) Median sebesar 39,00; (3) Modus sebesar 41; (4) Standar deviasi sebesar 5.279; (5) Nilai minimum sebesar 20; (6) Nilai maksimum sebesar 45; dan (6) Jumlah skor total sebesar 2123. Dengan demikian, Kelas Sosial di PERUM PERUMNAS Cabang Mojokerto Lokasi Madiun cukup baik.
Dari hasil koefisien determinasi (R-Square) dengan menggunakan program pengolahan data SPSS for Windows 16.0 diperoleh nilai sebesar 0,810. Artinya, kelas sosial berpengaruh terhadap perilaku konsumen sebesar 81% sedangkan 19% diperngaruhi oleh variabel lainnya. Sedangkan Dari hasil uji t diperoleh hasil besar nilai thitung 15.163, besar nilai ttabel 1.67252, besar nilai Sighit 0.000, dan besar Sigprob 0.05. Artinya, nilai thitung (15.163) ≥ ttabel (1.67252) atau Sighit (0.000 ) ≤ Sigprob (0.05). Dengan demikian, hipotesis penelitian ini menerima Ha dan menolak H0. Penyataan hipotesis penelitian adalah Kelas Sosial berpengaruh signifikan

Pengaruh Kelas Sosial Terhadap Perilaku Konsumen pada PERUM PERUMNAS Cabang Mojokerto Lokasi Madiun, terbukti dari hasil analisis uji regresi linier sederhana, uji determinasi (R-Square), dan uji signifikansi t (Uji t) mendapatkan hasil menerima Ha dan menolak H0. Penyataan hipotesis penelitian ini adalah Kelas Sosial berpengaruh signifikan terhadap Perilaku Konsumen pada PERUM PERUMNAS Cabang Mojokerto Lokasi Madiun. 

Sumber :

Ghoni, A., & Bodroastusi, T. (2009). Pengaruh Faktor Budaya, Sosial, Pribadi dan Psikologi Terhadap Perilaku Konsumen . Semarang : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi WIdya Manggala.
Ilham, & Hermawati. (2018). Pengaruh Faktor Kelas Sosial Terhadap Perilaku Konsumen dalam Pemilihan Pakaian . Journal of Islamic Management adn Bussines , 17-24.
J. Setiadi, N. (2003). Perilaku Konsumen . Jakarta : PT. Kencana Pernanda Media.
Nugraheni, R. (2018). Pengaruh Kelas Sosial Terhadap Perilaku Konsumen . Jurnal EQUILIBRIUM.
Setiawan, Y. (2013). Analisis Pengaruh Budaya, Kelas Sosial, Psikologis, Harga dan Promosi Terhadap Keputusan Studi Lanjut ke Program Sarjana Bidang Studi Akuntansi (Studi Kasus Mahasiswa Baru Akuntansi S1 UDINUS). Media Ekonomi dan Teknologi Informasi, 90-101.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar