Faktor Kebudayaan
A. Pengertian Budaya
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan
merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan
lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Paulus (1999)
dalam Aprih dan Bambang (2009) menyatakan bahwa budaya merupakan keseluruhan
sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijalankan dalam proses belajar. Budaya adalah suatu cara hidup
yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan
dari generasi ke generasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang
rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan dan karya seni bahasa, sebagaimana juga budaya merupakan
sebuah bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang
cenderung menganggapnya bahwa budaya itu diwariskan secara genetis. Budaya
merupakan suatu kepercayaan, nilai-nilai dan kebiasaan yang dipelajari
seseorang, yang dapat mengarahkan seseorang tersebut dalam menggunakan suatu
barang atau jasa. Kepercayaan, nilai-nilai dan kebiasaan itu dapat muncul bila
seseorang melakukan interaksi, hubungan dan saling mempengaruhi dalam
berperilaku.
B. Pengertian Sub Budaya
Setiap budaya terdiri sub budaya yang lebih kecil yang
memberikan lebih banyak ciri – ciri dan sosialisasi khusus bagi anggotanya. Sub
budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak
sub budaya yang membentuk segmen pasar penting dengan merancang produk dan
program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Suatu perusahaan
membuat produk sesuai dengan daerah dimana produk tesebut dipasarkan (Kotler
dan Keller, 2007).
Menurut Solomon (2004), sub budaya terdiri dari anggota
yang memiliki kesamaan kepercayaan dan pengalaman yang membedakan anggota
tersebut dari yang lain. Anggota ini bisa didasarkan dari kesamaan umur, ras,
latar belakang suku, atau tempat tinggal. Setiap suku memiliki keinginan dan
kebutuhan yang berbeda, seperti dalam menentukan suatu produk, memilih tempat
wisata, perilaku politik serta keinginan untuk mencoba produk baru. Dalam segi
umur pun juga mempengaruhi dalam perilaku konsumsi.
Menurut Schifman dan Kanuk (2008), sub budaya membagi
keseluruhan masyarakat menjadi berbagai macam variabel sosiobudaya dan
demografis seperti kebangsaan, agama, lokasi geografis, ras, usia, gender, dan
bahkan status pekerjaan. Para anggota sub budaya tertentu mempunyai nilai –
nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang membedakan anggota sub budaya tersebut
dari anggota lain dalam masyarakat yang sama.
C. Pengaruh Kebudayaan
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam
pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh
budaya, subbudaya dan kelas social pembeli. Budaya adalah penyebab paling
mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Setiap kebudayaan terdiri dari
sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan
sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat
dibedakan menjadi empat jenis:
- Kelompok Nasionalisme,
- Kelompok Keagamaan,
- Kelompok Ras, dan
- Area Geografis.
Banyak
sub-budaya membentuk segmen pasar
penting dan pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang
disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Berikut ini adalah contoh pengaruh
kebudayaan yang mempengaruhi pembelian itu sendiri :
- Pengaruh Budaya Terhadap Pemaknaan Sebuah Produk.
Budaya menuntun individu dan
masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan maupun keinginan terhadap barang dan
jasa. Tuntunan budaya tersebut dapat berupa nilai ataupun norma. Dalam tiap-tiap
kebudayaan, terdapat ciri khas masing–masing yang membawa pemaknaan terhadap
suatu produk. Contohnya : Tuntunan budaya berupa nilai : dalam hal kuliner sayur asam, ikan asin, atau lalapan. Orang
akan memaknai produk tersebut kulinernya orang sunda. Tuntunan budaya berupa
norma : labelisasi Halal pada setiap produk yang dapat di konsumsi oleh umat
Islam, yang di keluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia.Pengaruh
- Budaya Terhadap Pengambilan Keputusan Individu.
Individu
dalam mengambil keputusan untuk berkonsumsi, tidak dapat dipisahkan dari
pengaruh budaya. Di antaranya di pengaruhi nilai dan norma. Di dalam masyarakat
terdapat ide/gagasan mengenai, apakah suatu pengalaman berharga, tidak
berharga, bernilai, tidak bernilai, pantas atau tidak. Inilah yang di artikan
sebagai nilai. Sedangkan norma sendiri dimaknai sebagai peraturan yang
ditetapkan secara bersama-sama, yang menuntun perilaku seseorang dalam
mengambil keputusan. Contohnya : Pengambilan keputusan yang di pengaruhi oleh
nilai : Kegiatan amal yang di lakukan individu, dengan menyantuni semua anak
yatim dalam suatu panti, merupakan tindakan yang bernilai, yang akan memperoleh
pahala dan kebajikan bagi dirinya. Tetapi tidak bagi individu lain, karena
dianggap hal itu merupakan pemborosan. Pengambilan keputusan yang di pengaruhi
oleh norma : Di daerah Padang, di haruskan bagi para siswa sekolah untuk bisa
membaca Al-Qur’an. Namun tidak bagi daerah di Papua.
- Pengaruh Budaya yang Berupa Tradisi.
Tradisi
adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian
langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan
terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan manusia, dari
lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat bersifat umum. Hal yang penting dari
tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih
berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang
selalu berhubungan dengan pohon cemara. Dan untuk tradisi-tradisi misalnya
pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara
tersebut.
- Pengaruh Budaya dapat Memuaskan Kebutuhan.
Budaya
yang ada di masyarakat dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya dalam suatu
produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan
menyediakan metode “Coba dan buktikan” dalam memuaskan kebutuhan fisiologis,
personal dan sosial. Misalnya dengan adanya budaya yang memberikan peraturan
dan standar mengenai kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap
waktu seseorang pada waktu makan. Begitu juga hal yang sama yang akan dilakukan
konsumen misalnya sewaktu mengkonsumsi makanan olahan dan suatu obat.
- Pengaruh Budaya yang tidak disadari.
Dengan
adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan . Dengan memahami
beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam
memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat
mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh budaya sangat alami dan
otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja.
- Pengaruh Budaya dapat dipelajari.
Budaya
dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan
seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan
yang kemudian membentuk budaya seseorang. Berbagai macam cara budaya dapat
dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu misalnya ketika orang
dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota keluarganya yang lebih
muda mengenai cara berperilaku. Ada juga misalnya seorang anak belajar dengan
meniru perilaku keluarganya, teman atau pahlawan di televisi. Begitu juga dalam
dunia industri, perusahaan periklanan cenderung memilih cara pembelajaran
secara informal dengan memberikan model untuk ditiru masyarakat.
D. Unsur Sub-Budaya dan Demografis
Budaya yang ada di dalam suatu masyarakat bisa dibagi
lagi ke dalam beberapa bagian yang lebih kecil. Inilah yang disebut dengan
sub-budaya. Sub-budaya bisa tumbuh dari adanya kelompok-kelompok di dalam suatu
masyarakat. Pengelompokan masyarakat biasanya berdasarkan usia, jenis kelamin,
lokasi tinggal, pekerjaan dan sebagainya. Suatu budaya akan terdiri dari
beberapa kelompok kecil lainnya, yang dicirikan oleh adanya perbedaan perilaku
antar kelompok kecil tersebut. Perbedaan kelompok tersebut berdasarkan
karakteristik sosial, ekonomi dan demografi. Demografi akan menggambarkan
karakteristik suatu penduduk.
Di dalam varibel demografi tersebut, kita bisa
mendapatkan Sub-budaya yang berbeda, yaitu suku sunda, batak, padang, dsb. Unsur-unsur Sub Budaya dan
Demografi :
- Usia
Merupakan
hal yang penting untuk dipahami, karena konsumen yang berbeda usia akan
mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda. Para pemasar harus memahami apa
kebutuhan dari konsumen dengan berbagai usia tersebut, kemudian membuat beragam
produk yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
- Pendidikan dan pekerjaan
Pendidikan
akan menentukan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seorang konsumen. Profesi
dan pekerjaan seseorang akan mempengaruhi pendapatan yang diterimanya.
Pendapatan dan pendidikan tersebut kemudian akan mempengaruhi proses keputusan
dan pola konsumsi seseorang. Tingkat pendidikan seseorang juga akan
mempengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berpikir, cara pandang bahkan
persepsinya terhadap suatu masalah. Dari sisi pemasaran, semua konsumen dengan
tingkat pendidikan yang berbeda adalah konsumen potensial bagi semua produk dan
jasa. Pemasar harus memahami kebutuhan konsumen dengan tingkat pendidikan yang
berbeda, dan produk apa yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
- Lokasi geografis
Dimana seorang konsumen tinggal akan mempengaruhi
pola konsumsinya. Konsumen yang tinggal di desa akan memiliki akses terbatas
kepada berbagai produk dan jasa. Sebaliknya, konsumen yang tinggal di kota-kota
besar lebih mudah memperoleh semua barang dan jasa yang dibutuhkannya.
Kelas Sosial
A. Pengartian Kelas Sosial
Istilah kelas (kelas sosial) tidak selalu
memiliki arti yang sama meskipun secara hakikat mewujudkan sistem kedudukan
pokok dalam masyarakat. Pengertian kelas sejalan dengan pengertian lapisan
tanpa harus membedakan dasar pelapisan masyarakat. Kelas sosial atau golongan
sosial mempunyai arti yang relatif lebih banyak dipakai untuk menunjukkan
lapisan sosial yang didasarkan atas kriteria ekonomi. Sehingga kelas sosial
dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang menempati lapisan sosial
berdasarkan kriteria ekonomi.
Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan
dalam penghormatan dan status sosialnya, seperti seorang anggota masyarakat
yang dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang
anggota masyarakat dipandang rendah kerena memiliki status sosial yang rendah.
Pembagian kelas sosial terdiri atas tiga bagian yaitu berdasarkan status
ekonomi, dan status sosial. Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi
menjadi kelas atau golongan yaitu golongan sangat kaya, golongan kaya, dan
golongan miskin. Aristoteles menggambarkan ketiga kelas tersebut seperti
piramida.
- Golongan pertama merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari pengusaha, tuan tanah, dan bangsawan.
- Golongan kedua merupakan golongan yang cukup banyak terdapat didalam masyarakat yang terdiri dari para pedagang dan sebagainya.
- Golongan ketiga merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat, kebanyakan terdiri dari rakyat biasa
Kelas sosial merupakan lapisan sosial yang dimiliki oleh individu maupun sekelompok orang yang bisa terlihat lebih tinggi atau lebih rendah dari konsumen lainnya. Biasanya kelas
sosial terlihat pada pekerjaan,
penghasilan, pendidikan, kehormatan, kekuasaan konsumen. Dengan mengetahui kelas sosial konsumen, pemasar
dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen serta perilaku sosialnya. Biasanya kelas sosial terlihat pada pekerjaan, penghasilan, pendidikan, kehormatan, kekuasaan konsumen.
Dengan mengetahui kelas sosial konsumen,
pemasar dapat mengidentifikasi kebutuhan
konsumen serta perilaku sosialnya.
B. Karakteristik Kelas Sosial
Menurut
Dharmmesta dan Handoko (2013),
kelas sosial dapat
dikelompokkan ke dalam tiga golongan,
yaitu :
1.
Kelas
sosial golongan atas, yang
termasuk dalam kelas ini antara lain:
pengusaha-pengusaha, pejabat tinggi.
2.
Kelas
sosial golongan menengah yang
termasuk dalam kelas ini antara lain:
karyawan instansi, pemerintah, pengusaha
menengah
3.
Kelas
sosial golongan rendah yang
termasuk dalam kelas ini: buruh pabrik, pegawai rendah, tukang becak, dan pedagang kecil.
C. Faktor-faktor yang Menentukan Kelas Sosial
Menurut teori Engel, dkk (1994), menjelaskan bahwa
terdapat beberapa hal yang yang dapat menentukan kelas sosial yaitu:
a.
Pekerjaan
merupakan aspek strata sosial yang sangat penting, karena begitu banyak segi kehidupan
lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Apabila kita mengetahui jenis
pekerjaan seseorang makan kita dapat menduga tinggi rendahnya pendidikan,
standar hidup, pertemanannya, jam kerja, dan kebiasaan sehari-hari dari
keluarga orang tersebut. Pekerjaan merupakan salah satu indikator terbaik untuk
mengetahui cara hidup seseorang.
b.
Pendidikan
(prestasi pribadi), kelas sosial dan pendidikan saling mempengaruhi, dimana
dalam pendidikan ini tidak hanya sekedar memberikan keterampilan kerja, tetapi
juga melahirkan perubahan mental, selera minat, tujuan etika, cara berbicara,
dan perubahan dalam keseluruhan cara hidup seseorang
c.
Kekayaan
merupakan sebuah penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan seseorang, sehingga
orang yang memiliki kekayaan lebih maka akan memberikan gambaran tentang latar
belakang dan cara hidup seseorang, sehingga kekayaan merupakan determinasi
kelas sosial yang penting
Studi Kasus
A. Faktor Kebudayaan
Menurut penelitian Pengaruh Faktor Kebudayaan, Sosial,
Pribadi dan Psikologi terhadap Perilaku Pembelian (studi kasus perilaku
konsumen dalam pembelian sabun cair di Toko Sami Untung Pasar Mrican Semarang) (nila
& tantri, 2011). Pengujian hipotesis Variabel Faktor Budaya terhadap
Perilaku Konsumen dilakukan dengan uji t. Pengujian hipotesis ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh faktor budaya (X1) terhadap perilaku
konsumen. Dari perhitungan dihasilkan
nilai t hitung = 13,525 > nilai t tabel = 1,985 dengan signifikansi
sebesar 0,000, hal ini berarti variabel kebudayaan mempunyai hubungan positif
dan signifikan, artinya bila budaya menggunakan sabun cair sudah melekat
dibenak konsumen, maka perilaku konsumen dalam pembelian sabun cair juga
meningkat.
Selain itu dari hasil identifikasi responden menunjukkan bahwa responden pada umumnya
menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi sabun cair karena sudah terbiasa
mengkonsumsi produk tersebut sebagai pengganti sabun batangan yang
penggunaannya mudah, produknya mudah diperoleh di sekitar daerah tempat tinggal
walaupun pembelian sabun cair mencerminkan kelas sosial. Berarti dalam
penelitian ini terlihat bahwa konsumen yang dulunya menggunakan sabun batangan,
sekarang merasa lebih praktis menggunakan sabun cair. Hal ini berarti semakin
tinggi tingkat kebudayaan seseorang, maka kecenderungan untuk mengikuti
kebiasaan/trend saat ini terhadap penggunaan sebuah produk juga meningkat. Dari
hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel kebudayaan merupakan variabel
yang dominan terhadap perilaku konsumen dibandingkan variabel yang lain
B. Kelas Sosial
Menurut penelitian Pengaruh Kelas
Sosial Terhadap Perilaku Konsumen (studi pada pembelian rumah di PERUM PERUMNAS
cabang Mojokerto lokasi Madiun) (Nugraheni,
2018). Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi
dalam penelitian ini sebanyak 56 konsumen sekaligus sebagai sampel karena
jumlah keseluruhan populasi kurang dari 100 sehingga keseluruhan dijadikan
sampel. Dengan menggunakan uji koefisien determinasi dan uji signifikansi t
sebagai alat uji coba terhadap sampel.
Deskripsi variabel Kelas Sosial dengan jumlah responden
sebanyak 56 konsumen, memiliki deskripsi data sebagai berikut : (1) Nilai
rata-rata hitung (Mean) sebesar 37,91; (2) Median sebesar 39,00; (3) Modus
sebesar 41; (4) Standar deviasi sebesar 5.279; (5) Nilai minimum sebesar 20;
(6) Nilai maksimum sebesar 45; dan (6) Jumlah skor total sebesar 2123. Dengan demikian, Kelas Sosial
di PERUM PERUMNAS Cabang Mojokerto Lokasi Madiun cukup baik.
Dari hasil koefisien determinasi (R-Square) dengan
menggunakan program pengolahan data SPSS for Windows 16.0 diperoleh nilai
sebesar 0,810. Artinya, kelas sosial
berpengaruh terhadap perilaku konsumen sebesar 81% sedangkan 19% diperngaruhi
oleh variabel lainnya. Sedangkan Dari hasil uji t diperoleh hasil besar nilai thitung
15.163, besar nilai ttabel 1.67252, besar nilai Sighit 0.000, dan besar Sigprob
0.05. Artinya, nilai thitung (15.163) ≥ ttabel (1.67252) atau Sighit (0.000 ) ≤
Sigprob (0.05). Dengan demikian, hipotesis penelitian ini menerima Ha dan menolak
H0. Penyataan hipotesis penelitian adalah Kelas Sosial berpengaruh signifikan.
Pengaruh
Kelas Sosial Terhadap Perilaku Konsumen pada PERUM PERUMNAS Cabang Mojokerto
Lokasi Madiun, terbukti dari hasil analisis uji regresi linier sederhana, uji
determinasi (R-Square), dan uji signifikansi t (Uji t) mendapatkan hasil
menerima Ha dan menolak H0. Penyataan hipotesis penelitian ini adalah Kelas
Sosial berpengaruh signifikan terhadap Perilaku Konsumen pada PERUM PERUMNAS
Cabang Mojokerto Lokasi Madiun.
Sumber :
Ghoni, A.,
& Bodroastusi, T. (2009). Pengaruh Faktor Budaya, Sosial, Pribadi dan Psikologi
Terhadap Perilaku Konsumen . Semarang : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi WIdya
Manggala.
Ilham, &
Hermawati. (2018). Pengaruh Faktor Kelas Sosial Terhadap Perilaku Konsumen
dalam Pemilihan Pakaian . Journal of Islamic Management adn Bussines ,
17-24.
J. Setiadi,
N. (2003). Perilaku Konsumen . Jakarta : PT. Kencana Pernanda Media.
Nugraheni, R.
(2018). Pengaruh Kelas Sosial Terhadap Perilaku Konsumen . Jurnal
EQUILIBRIUM.
Setiawan, Y.
(2013). Analisis Pengaruh Budaya, Kelas Sosial, Psikologis, Harga dan Promosi
Terhadap Keputusan Studi Lanjut ke Program Sarjana Bidang Studi Akuntansi
(Studi Kasus Mahasiswa Baru Akuntansi S1 UDINUS). Media Ekonomi dan
Teknologi Informasi, 90-101.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar